Pulau Nusa Ela tidak pernah benar-benar diam. Sejak abad ke-16, ia telah dipanggil dengan nama yang berbeda oleh kapal-kapal yang singgah — Insula Aromatica oleh kartografer Portugis, Klein Banda oleh juru tulis VOC, dan Pulau Ela oleh nelayan Banda yang mengenalnya sebagai tempat berlabuh saat angin barat datang.
Ia adalah salah satu dari sebelas pulau di Kepulauan Banda, jantung Maluku Tengah yang selama empat ratus tahun menjadi satu-satunya sumber pala di dunia. Di pulau-pulau ini, sebuah genggaman rempah pernah bernilai lebih dari emas; perang dilancarkan, perjanjian dibuat, dan kota-kota Eropa dibangun dari hasil panen yang ditanam di tanah yang sekarang Anda injak.
Kami tidak datang untuk membuat sesuatu yang baru. Kami datang untuk mendengarkan apa yang sudah ada di sini.
Pada 2019, sebuah keluarga lokal mewarisi konsesi atas pulau kecil seluas 14 hektar ini dari kakek mereka — seorang petani pala generasi keenam dari Lonthoir. Mereka diberi pilihan: menjualnya kepada pengembang besar yang ingin membangun resor 200 kamar, atau menemukan cara lain.
Mereka memilih cara lain. Tiga tahun kemudian, dengan tim arsitek yang menolak menebang satu pun pohon kenari yang sudah berdiri sejak zaman VOC, lahirlah Nusa Ela Resort Maluku — sebuah sanctuary 18 suite yang lebih sering disebut sebagai "rumah yang dibangun ulang", bukan resor yang dibangun.
Halaman ini adalah cerita tentang bagaimana pulau ini sampai pada bentuknya yang sekarang. Tentang orang-orang yang menjaganya. Tentang janji-janji kecil yang kami buat pada laut dan pada para tetangga yang sudah lebih dulu tinggal di sini sebelum kami.