Pulau Nusa Ela tidak pernah benar-benar diam. Sejak abad ke-16, ia telah dipanggil dengan nama yang berbeda oleh kapal-kapal yang singgah — Insula Aromatica oleh kartografer Portugis, Klein Banda oleh juru tulis VOC, dan Pulau Ela oleh nelayan Banda yang mengenalnya sebagai tempat berlabuh saat angin barat datang.

Ia adalah salah satu dari sebelas pulau di Kepulauan Banda, jantung Maluku Tengah yang selama empat ratus tahun menjadi satu-satunya sumber pala di dunia. Di pulau-pulau ini, sebuah genggaman rempah pernah bernilai lebih dari emas; perang dilancarkan, perjanjian dibuat, dan kota-kota Eropa dibangun dari hasil panen yang ditanam di tanah yang sekarang Anda injak.

Kami tidak datang untuk membuat sesuatu yang baru. Kami datang untuk mendengarkan apa yang sudah ada di sini.

Pada 2019, sebuah keluarga lokal mewarisi konsesi atas pulau kecil seluas 14 hektar ini dari kakek mereka — seorang petani pala generasi keenam dari Lonthoir. Mereka diberi pilihan: menjualnya kepada pengembang besar yang ingin membangun resor 200 kamar, atau menemukan cara lain.

Mereka memilih cara lain. Tiga tahun kemudian, dengan tim arsitek yang menolak menebang satu pun pohon kenari yang sudah berdiri sejak zaman VOC, lahirlah Nusa Ela Resort Maluku — sebuah sanctuary 18 suite yang lebih sering disebut sebagai "rumah yang dibangun ulang", bukan resor yang dibangun.

Halaman ini adalah cerita tentang bagaimana pulau ini sampai pada bentuknya yang sekarang. Tentang orang-orang yang menjaganya. Tentang janji-janji kecil yang kami buat pada laut dan pada para tetangga yang sudah lebih dulu tinggal di sini sebelum kami.

Lini Masa

Empat abad Nusa Ela.

1621

Jejak pertama VOC

Pulau ini muncul untuk pertama kalinya di peta laut Belanda sebagai "Klein Banda" — pulau kecil di rute pelayaran rempah antara Banda Neira dan Run.

1810

Kebun pala didirikan

Keluarga Lonthoir menanam 200 pohon pala pertama di lereng utara pulau. Beberapa di antaranya masih berdiri, dan masih berbuah, hingga hari ini.

2019

Pulau diwariskan

Cucu-cucu keluarga Lonthoir mewarisi pulau dan memilih untuk tidak menjualnya. Tiga tahun proses desain dimulai, melibatkan para tetua adat Banda.

2022

Nusa Ela dibuka

Resor dibuka dengan 18 suite. Tidak ada satu pun pohon kenari yang ditebang. Tujuh puluh persen tim adalah putra-putri Banda dan Maluku Tengah.

Filosofi

Tiga prinsip yang membentuk kami.

Nusa Ela Resort dibangun di atas tiga komitmen sederhana yang kami uji ulang setiap minggu, pada setiap keputusan kecil — dari menu sarapan hingga pemilihan kayu untuk perabot baru.

N° I

Biarkan pulau yang berbicara

Kami tidak membangun pemandangan. Kami tidak meratakan bukit atau memindahkan karang. Setiap suite ditempatkan di celah yang sudah ada di antara pohon-pohon, dan bila itu berarti dua suite menghadap arah yang sama, biarlah. Pulau lebih tahu dari arsitek.

N° II

Tujuh puluh, tiga puluh

Tujuh puluh persen tim kami berasal dari Banda dan Maluku Tengah. Tiga puluh sisanya datang dari tempat lain — dan datang untuk belajar, bukan mengajar. Kepala chef kami adalah cucu nelayan Banda Neira. Sommelier kami adalah perempuan dari Saparua yang dulu mengajar bahasa Inggris di Ambon.

N° III

Mewarisi, bukan menguras

Kami menanam dua pohon untuk setiap pohon yang harus kami pindahkan. Air tawar resor seluruhnya ditampung dari hujan dan dimurnikan di tempat. Limbah organik dikomposkan dan kembali ke kebun rempah. Energi 80% dari surya. Sisanya, kami sedang berusaha.

Tim

Wajah-wajah Nusa Ela.

Empat puluh dua orang yang membuat pulau ini bekerja. Berikut empat di antaranya yang kebetulan paling sering Anda jumpai.

Anastasia Salim

Founder & Curator

Lahir di Ambon, dibesarkan di Den Haag. Kembali ke Maluku setelah 18 tahun di dunia hospitality Eropa.

Yusuf Lonthoir

Co-Founder & Heritage

Petani pala generasi keenam. Pengetahuannya tentang Banda jauh melampaui buku sejarah mana pun.

Made Wirawan

Executive Chef

Mantan sous chef Locavore Bali. Sekarang lebih bahagia memasak dengan pala segar dan ikan yang dipancing pagi itu juga.

Linda Sipasulta

Marine Conservation

Biolog kelautan dari Universitas Pattimura. Memetakan setiap karang dalam radius dua kilometer dari pulau.

Komitmen

Janji-janji kecil kami.

  1. 01

    Tidak ada single-use plastic

    Sejak hari pertama buka. Botol kaca isi ulang di setiap suite, sedotan stainless, kemasan amenity berbahan kompostable.

  2. 02

    80% energi dari matahari

    Panel surya 240 kWp menyalakan resor di siang hari dan menyimpan untuk malam. Sisa 20% — kami sedang membangun turbin angin kecil.

  3. 03

    Air hujan, dimurnikan di tempat

    Tidak ada satu pun air kemasan dibawa masuk ke pulau. Sistem filtrasi multi-tahap mengubah air hujan menjadi air minum kelas premium.

  4. 04

    Dana konservasi karang

    5% dari setiap pendapatan suite langsung disalurkan ke program restorasi terumbu karang Banda yang dijalankan bersama LIPI.

  5. 05

    70% tim adalah tetangga kami

    Direkrut dari Banda Neira, Lonthoir, Hatta, dan Maluku Tengah. Beasiswa hospitality juga kami buka tiap tahun untuk lima pelajar lokal.

.Surat dari Pendiri

Surat dari Pendiri

Ada banyak resor mewah di dunia. Tidak banyak yang memilih untuk menjadi tamu di tanahnya sendiri. Itulah yang kami coba lakukan di sini — tinggal sejenak, mendengarkan, lalu pamit dengan rasa terima kasih. Kami harap, ketika Anda pulang, Anda merasakan hal yang sama.

Anastasia Salim

— Pendiri, Nusa Ela Resort Maluku

Mari kita berkenalan.

Reservasi di Nusa Ela dilakukan melalui percakapan. Tulis kepada kami; kami akan menjawab dalam 24 jam.